Kuliah Praktisi Biologi UNY: Mahasiswa Belajar Riset Invertebrata Laut dari Peneliti BRIN

Yogyakarta, 2 Oktober 2026. Sebanyak 123 mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dari kelas B, E, dan F mengikuti kuliah praktisi bertema “Keanekaragaman Hayati Invertebrata Laut dan Teknologi” pada Jumat (2/10). Kegiatan ini diampu Dr. Yunita Fera Rahmawati, S.Pd., M.Sc., dengan narasumber Indra Bayu Vimono, Ph.D., peneliti di Research Center for System Biota, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Indra memulai dengan penjelasan dasar tentang keanekaragaman hayati laut, yang dibagi menjadi tiga tingkat: genetik, spesies, dan ekosistem. Dari situ pembahasan bergeser ke Indonesia, yang menurut materi berada di kawasan Coral Triangle dan menyimpan kekayaan biota laut yang sangat tinggi. Raja Ampat, misalnya, tercatat memiliki 972 spesies ikan karang, sementara perairan Indonesia secara keseluruhan memiliki lebih dari 765 spesies rumput laut. Mahasiswa lalu dikenalkan pada kelompok-kelompok invertebrata laut, yaitu Porifera, Cnidaria, Mollusca, Annelida, Crustacea, dan Echinodermata. Materi juga menyinggung beberapa kelompok Chordata yang masih punya ciri invertebrata, seperti adanya notokorda. Selain mengenal jenisnya, mahasiswa diajak melihat peran masing-masing biota di terumbu karang. Diadema berfungsi mengendalikan pertumbuhan alga. Teripang mengurai organisme mati dan ikut berperan dalam pelarutan kalsium karbonat pada terumbu. Kima menyaring air sekaligus membantu pembentukan material kalsium karbonat.

Sebagian materi membahas ancaman terhadap ekosistem laut: perubahan iklim, penangkapan ikan yang berlebihan dan merusak, pencemaran, sedimentasi, dan sampah plastik. Dampak perubahan iklim diuraikan lebih rinci, mulai dari naiknya suhu laut, pemutihan karang, kenaikan muka air laut, hingga pengasaman laut yang mengganggu proses kalsifikasi. Bagian yang paling dekat dengan kebutuhan mahasiswa adalah peluang penelitian. Menurut materi, riset biodiversitas bisa dilakukan di terumbu karang, padang lamun, pantai berbatu, pantai berpasir, maupun mangrove. Topik yang bisa diambil pun beragam, misalnya keanekaragaman Mollusca di mangrove, keanekaragaman Echinodermata, struktur populasi, hubungan invertebrata dengan kualitas air, DNA barcoding, tutupan karang, dan keanekaragaman megabentos.

Untuk penelitian laut dalam, mahasiswa mendapat gambaran bahwa pekerjaannya jauh lebih rumit. Pada kedalaman lebih dari 100 meter, peneliti membutuhkan kapal riset, kendaraan bawah laut, dan peralatan pengambilan sampel khusus, belum lagi pengolahan sampel yang lebih panjang. Metode seperti _soft bottom trawl_ dan _box core_ dipakai untuk mengambil biota dan sedimen dari dasar laut.

 

Kuliah ini juga memperkenalkan sejumlah teknologi yang kini dipakai dalam riset kelautan: environmental DNA (eDNA) metabarcoding, 3D modelling, microtomography, 3D scanning, digital identification, Internet of Things (IoT), drone, dan artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut membantu identifikasi spesies, pemantauan ekosistem, pencarian keanekaragaman hayati yang belum terungkap, hingga pemantauan kualitas lingkungan secara real time.

Latar belakang narasumber sejalan dengan materi yang dibawakan. Indra meneliti Echinodermata dan sentinel species, dan sebelumnya tergabung dalam Research Group on Autecology of Sentinel Biota di BRIN. Gelar doktoralnya di bidang Ecology and Biodiversity diperoleh dari University of Montpellier, Prancis, pada 2024. Sebelumnya ia menempuh Master of Applied Science di James Cook University, Australia, dan sarjana Biologi di Universitas Negeri Malang. Dalam kariernya, Indra meneliti Echinodermata, Mollusca, lamun, mangrove, terumbu karang, dan biodiversitas laut dalam. Ia ikut dalam sejumlah ekspedisi, antara lain di Natuna, Leti, Ternate-Halmahera, Raja Ampat, Selat Makassar, serta penelitian laut dalam di perairan selatan Jawa. Publikasinya mencakup eDNA metabarcoding, biodiversitas ikan karang, filogeografi bulu babi, dan biodiversitas teripang.

Pada sesi diskusi, mahasiswa aktif bertanya. Topiknya antara lain peluang magang di BRIN, penelitian laut dalam, cara mengidentifikasi spesies, pengaruh perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati, penggunaan eDNA, serta kendala saat sampling dan identifikasi organisme laut. Di penghujung kuliah, riset kelautan digambarkan sebagai kerja yang bisa dimulai dari hal mendasar, yaitu penelitian _baseline_ dan monitoring. Dari sana, pengembangannya bisa berlanjut lewat kolaborasi dengan pemangku kepentingan, pelatihan, penulisan, diseminasi ke masyarakat, _citizen science_, dan penyusunan kebijakan berbasis sains.